PorosSulteng-Tolitoli - Proyek jembatan yang dikerjakan PT Tunggal Maju Jaya (TMJ) Kabupaten Tolitoli diduga telah melanggar spesifikasi teknis. PPK 1.3 ruas Lingadan - Malala melakukan pembiaran.
Spesifikasi teknis yang dilanggar dalam pengerjaan jembatan miliaran rupiah itu mulai dari timbunan Oprit yang menggunakan pasir juga pengurangan takaran semen pada pekerjaan cor Abutmen dan plat injak.
Pekerja jembatan yang ditemui di lokasi menceritakan satu truk mixer untuk cor Abutmen semen yang dipergunakan 47 sak dengan kapasitas lima kubik material.
" Sepertinya ini cor abutmen takaran semen hanya 40 sak untuk satu truk ready mixer," tutur Yoyo kepada wartawan.
Untuk membuktikan Takeran semen berbeda nampak terlihat dari perbedaan warna beton, volume semen yang dipergunakan untuk cor beton jembatan itu agar mutu beton bisa di jamin kuat sesuai Job Mix Designe (JMD), menurut Yoyo, seharusnya satu mobil ready mixer menggunakan sembilan sak semen untuk satu kubik material.
" Ini proyek jembatan kontraknya sudah habis sejak tanggal 25 November, tapi masih diperanjang 50 hari lagi," kita Yoyo yang mengaku berasal dari palu
Di katakan,General Superintendent PT.TMJ, Musi Sriyanto yang dikonfirmasi oleh wartawan terkait uji mutu cor untuk dua buah jembatan yang dikerjakan di Desa Bajugan dan Desa Galumpang di ruas Lingadan-Malala senilai belasan miliar itu telah dilakukan pengujian mutu Job Mix Designe.
"Selain itu,Satu kubik material semen yang dipergunakan sembilan sak, jadi kalau lima kubik material menggunakan 45 sak semen," jelas Musi Sriyanto yang ditemui di rumah mantan Kades Galumpang.
Ia juga menjelaskan kalau dalam melakukan pengujian mutu Job Mixing Formula (JMF), pihaknya tidak menunggu hasil lebih dulu, melainkan pengambilannya dilakukan saat pengecoran berlangsung.
"Sampel diambil kemudian dikirim ke palu, dan hasilnya sejauh ini selalu sesuai dengan komposisi yang ditetapkan sesuai JMD," kata Musi Sriyanto.
Ia juga mengakui, jembatan yang tengah dikerjakan itu sudah mengalami keterlambatan kontrak sejak 25 November, namun masih diberikan kesempatan hingga 50 hari. Disinggung mengenai progres, pihaknya berkeyakinan sesuai hitungan baru mencapai 70 persen, sementara terkait timbunan Oprit yang bukan merupakan Urpil tak dielakkannya, menurutnya material tersebut diangkut dari sungai yang pasirnya lebih banyak ketimbang batu.
"Terlihat hanya pasir, karena saat terkena hujan, pasirnya timbul, batu kerikil tertanam," elak Musi Sriyanto. (Sultan)


