Kapten Laut (K) dr. Jordy, Kepala Balai Kesehatan Lanal Palu, menyampaikan angka itu dengan tenang saat ditemui di posko, Jumat 19 Juni 2026. Bukan untuk mencari pujian, tapi karena memang begitulah kenyataannya.
"Mayoritas pasien datang dengan luka akibat gempa. Ada yang tertimpa lemari, ada yang tertimpa bata," ujar dr. Jordy.
Luka fisik memang paling banyak. Tapi trauma juga ikut antre. Warga yang kurang tidur karena cemas mengeluh sakit kepala. Cuaca tenda darurat yang tak menentu membuat infeksi saluran pernapasan atas meningkat. Bayi-bayi pun tak luput — rata-rata tiga sampai empat bayi datang setiap hari. Ibu hamil ada, meski sedikit. Satu di antaranya harus dirujuk karena komplikasi yang tak bisa ditangani di posko.
Ada satu kisah yang menempel di ingatan tim medis. Seorang pekerja tambang dari daerah atas datang dengan kedua kaki lumpuh. Sudah dua minggu ia tak bisa menggerakkan kaki dan menahan buang air. Ia baru bisa sampai posko setelah akses jalan kembali terbuka.
"Kasus seperti ini harus dirujuk untuk penanganan lebih lanjut," kata dr. Jordy pelan.
Pintu posko tak pernah tertutup untuk siapa pun. Jumat kemarin, di sela menangani korban gempa, dr. Jordy dan perawatnya juga melayani korban kecelakaan lalu lintas. Tak ada seleksi, tak ada penolakan. Siapa yang datang, dilayani.
TNI AL tak bekerja sendiri. Puskesmas Banpres jadi mitra utama, dibantu Puskesmas Marapal dan Puskesmas Dolo pada hari-hari tertentu. Di sela kesibukan, pernah diabadikan foto dr. Jordy berdiri di tengah belasan tenaga kesehatan sipil. Semua mengepalkan tangan, tanpa jarak antara seragam dan baju kerja. Yang ada hanya tujuan sama: menolong.
Berapa lama posko akan bertahan? Dr. Jordy tak menyebut tanggal. Arahan dari Komandan Lanal Palu jelas: dukung penuh layanan kesehatan selama status siaga bencana masih berlaku.
"Pelayanan kesehatan ini berkelanjutan, terus berjalan meski terdampak gempa," ujarnya.
Sosok yang bicara itu teduh. Tak ada nada berapi-api, tak ada klaim berlebihan. Hanya seorang dokter yang sejak tiga hari lalu memilih duduk di Dataran Palolo, menerima siapa saja yang datang. Dari warga yang tertimpa puing, sampai pekerja tambang yang dua minggu menahan sakit.
Tak ada liputan besar. Tak ada sambutan resmi. Posko itu hanya tenda hitam di halaman puskesmas. Tapi setiap pagi pintunya dibuka, dan tiga orang di dalamnya terus melayani.
Tiga orang. Tiga hari. Hampir tiga ratus jiwa. Mereka tak menghitung. Mereka hanya terus melayani.

