Pujian rohani mengawali ibadah yang berjalan khidmat. Pdt. Ni Ketut Suryaningsih, S.Th., kemudian menyampaikan firman dari Kolose 2:6-10. Ia mengingatkan jemaat bahwa kekuatan, kesehatan, berkat, dan keberhasilan yang dinikmati manusia datang dari Tuhan. Karena itu, menurutnya, perayaan ulang tahun layak dijadikan momen memperbarui komitmen pada panggilan gereja, agar jemaat terus berakar, bertumbuh, dan berbuah.
Di sela acara, Suryaningsih menyinggung persoalan yang dihadapi gereja hari ini. Kemajuan digital, ujarnya, membantu komunikasi, tetapi ada kalanya umat lebih akrab dengan layar ponsel ketimbang halaman Alkitab. Gereja sedang berupaya mengajak jemaat memakai teknologi secara bijak. Ia berharap jemaat tetap sehati, sepikir, dan saling membangun, sesuai tema perayaan Hendaklah kamu sehati, sepikir dalam satu kasih, satu jiwa dan satu tujuan (Filipi 2:2b). Sub tema yang diusung adalah Dengan bersyukur kita hidup dalam damai sejahtera dan saling membangun menuju jemaat yang berakar, bertumbuh dan berbuah.
Memasuki sesi seremoni, Pnt. Albert M. Lago membacakan riwayat berdirinya GPID Manunggal. Ketua Jemaat, Edison Wentinusa, lalu tampil dengan sambutan yang menggambarkan wajah jemaatnya. Menurut dia, jemaat ini sering disebut “NKRI kecil” karena dihuni warga dari sekitar 13 suku bangsa, sebagian berasal dari luar Sulawesi Tengah, dengan jumlah kurang lebih 2.600 jiwa dan masih bertambah. Edison menyebut usia 46 tahun sebagai usia dewasa, ditandai kematangan dalam bersyukur dan berpikir, bukan sikap kekanak-kanakan. Ia menegaskan, kesatuan jemaat dibangun tanpa menuntut keseragaman.
Pemerintah Kota Palu diwakili Kepala BKPSDMD, Dr. Drs. John Yus Madoli, M.Si., yang menyampaikan sambutan Walikota Hadianto Rasyid, S.E. Walikota, kata Madoli, tidak dapat hadir karena ada agenda lain. Dalam sambutan itu, Walikota menyampaikan terima kasih atas sumbangsih jemaat dalam membina kehidupan rohani dan karakter warga, serta menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama. Pemerintah kota berharap gereja terus menjadi mitra dan mengajak jemaat bersama-sama membangun Palu yang aman, damai, dan sejahtera di tengah keberagaman.
Dari tingkat provinsi, Kepala Biro Hukum Setda Sulteng, Dr. Adiman, S.H., M.Si., hadir mewakili Gubernur Anwar Hafid yang sedang ada kegiatan lain. Ia membacakan sambutan Gubernur yang memandang ulang tahun gereja sebagai kesempatan melihat kembali penyertaan Tuhan sekaligus menata langkah ke depan. Gereja yang kuat, menurut sambutan itu, ditopang oleh hati umat yang disatukan kasih, bukan semata oleh megahnya bangunan. Pemerintah provinsi menilai gereja sebagai mitra dalam membentuk masyarakat yang rukun, toleran, dan berkarakter, karena pembangunan tidak berhenti pada jalan dan gedung melainkan juga menyentuh manusianya. Gubernur mendoakan GPID Manunggal makin berakar dalam iman, bertumbuh dalam kasih, dan berbuah dalam pelayanan.
Adiman juga menyampaikan kabar lain di luar naskah. Menurutnya, Gubernur Anwar Hafid baru-baru ini menerima mandat dari Menteri Agama untuk menjadikan Sulawesi Tengah tuan rumah Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi) Nasional 2029, yang akan dihadiri peserta dari 38 provinsi. Ia mengajak umat mendukung dan mendoakan persiapannya.
Sebelum acara ditutup, panitia memotong kue ulang tahun di hadapan para pendeta dan penatua. Potongan kue diberikan kepada tokoh-tokoh yang dipanggil pembawa acara, lalu dilanjutkan lelang bahan natura. Setelah doa, seluruh jemaat menikmati jamuan kasih bersama.Rif




