PorosSulteng– Palu,– Sebuah kepala patung berukuran besar tampak berdiri di halaman Markas Komando Pomdam XXIII/Palaka Wira di Jalan Sultan Hasanuddin No. 24, Palu. Bangunan ini sudah sampai ditahap finishing dan sudah cukup mencolok bagi siapa pun yang melintas. Itulah kepala patung Gajah Mada, yang sedang dalam proses pemasangan kembali atas inisiatif Danpomdam XXIII/Palaka Wira, Kolonel Cpm Indra Jaya, S.E., M.M.
Bagi Kolonel Indra Jaya, ini bukan kali pertama. Saat bertugas di Pontianak sebelumnya, ia juga pernah menghadirkan patung serupa di lingkungan kesatuannya. Pembuatan patung ini mempunyai lapisan makna tersendiri karena patung Gajah Mada memang pernah berdiri di sini, lalu menghilang entah kapan, dan kini dikembalikan.
"Dulu di sini ada patung Gajah Mada. Pada saat itu saya SMA kelas 2, jadi setiap lewat sini ada patung Gajah Mada," kata Kolonel Indra Jaya saat ditemui di Mapomdam XXIII/Palaka Wira, Selasa (9/6/2026). Ia mengaku sampai pernah menyeberang jalan demi menghindari melintas tepat di depannya. Patung itu ada, hingga sekitar 1993, sebelum akhirnya tidak ada lagi. Sekarang, ia mengembalikannya.
Patung kepala Gajah Mada ini dikerjakan oleh pematung asal Bali, Nyoman Medan, dari Gianyar. Proses pemesanan dilakukan Kolonel Indra Jaya sejak awal 2026, tidak lama setelah ia mulai bertugas di Palu. Butuh sekitar setengah tahun pengerjaan. Karena bobotnya mencapai sekitar satu ton, patung ini tidak bisa dikirim sembarangan perlu ekspedisi kapal laut dari Bali ke Palu.
Rencananya, ada peresmian resmi sebelum masa jabatan Kolonel Indra Jaya berakhir di sini. Namun ia tidak bersedia menyebut tanggal pasti, hanya menyebut "kemungkinan dalam waktu dekat."
Pilihan Gajah Mada sebagai simbol bukan kebetulan. Dalam sejarah Korps Polisi Militer, nama itu muncul sejak awal. Pada 22 Juni 1946, melalui konferensi di Kopeng, Jawa Tengah, disepakati pembentukan divisi polisi tentara Republik Indonesia yang diberi nama "Gajah Mada." Presiden Soekarno mengesahkannya pada 18 Juli 1946. Nama itu kemudian menjadi bagian dari identitas korps, mencerminkan nilai-nilai yang ingin diemban: kesetiaan, keberanian, dan ketegasan dalam menegakkan hukum nilai yang terangkum dalam moto PM, Satya Wira Wicaksana.
Kolonel Indra Jaya sendiri, meski beragama Hindu dan berasal dari Bali, tidak pernah asing dengan Palu. Ia adalah alumni SMAN 2 Palu, dan memahami betul karakter masyarakat kota ini. Menurutnya, Palu dan Sulawesi pada umumnya punya militansi dalam artian positif semangat tinggi, berbudaya, dan relatif mudah diajak berinteraksi lintas latar belakang.
Soal filosofi orang Bali yang dikenal sukses di berbagai bidang, ia menjawab ringkas: "Bagi saya, disiplin adalah yang utama."
Sikap itu tampaknya bukan sekadar kata-kata. Selama masa tugasnya di Palu, Kolonel Indra Jaya dipercaya Pangdam XXIII/Palaka Wira menjadi Ketua Panitia Turnamen PSM yang berlangsung pada 2–8 Februari 2026, dan berlangsung sukses. Di bulan Ramadan, 9 Maret 2026, institusinya menggelar kegiatan berbagi takjil dan buka puasa bersama masyarakat, didahului pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan tausiyah dari tokoh agama setempat, ia hadir dan aktif meski memeluk keyakinan yang berbeda.
Dalam waktu tidak lama lagi, ia akan meninggalkan Palu untuk bertugas di tempat baru. Kepala patung Gajah Mada yang tengah berdiri di halaman Mapomdam itu kiranya akan menjadi penanda yang bertahan jauh setelah namanya tidak lagi tercatat di sana. (Rif)

